Sabtu, 11 Agustus 2018

Wahai Hati


Jangan bersedih hati,
Kita pasti bertemu nanti

Jangan bersusah hati,
Kita pasti bertemu lagi

Jangan kau pilu hati,
Sebab pertemuan akan kembali

Jangan lama-lama pergi,
Sebab ke pulanganmu lah yang ku nanti

~Teruntuk Kamu~


Kepada rasa kesal,
Aku sering berdebat perihal amarahku,
Tak lain adalah perihal kamu

Kepada rasa sabar,
Aku selalu berusaha menahannya,
Hingga sabar menjadi sahabatku

Kepada rasa nyaman,
Hal ternyaman hanya ada padamu,
Hingga rasa nyaman menjadi pendukung antara kita

Kepada rasa sayang,
Perasaan yang tak pernah menolak untuk sekadar,
Memberi kabar,
Memberi semangat,
Saling mengingatkan,
Adalah bentuk sayang yang sering terucap

Namun banyak hal lain didalam gemuruh hati paling dalam,
Rasa sayang itu berbicara perihal kamu

Juga tentang rasa cinta,
Yang telah lama kita jaga samasama,
Dalam penantian untuk bersama,
Melawan jarak yang memisahkan

Kepada rasa rindu,
Adalah perasaan yang menggalut,
Sudah menjadi sahabat karib kita,
Dan menjadi rindu-rindu yang membising hati

Kepada rasa bahagia,
Aku bahagia dipertemukan dan ditemukan kamu,
Yang menjadi kita,
Dalam penantian hari berdua itu datang,
Aku menantimu

Kepada jarak,
Maukah engkau tak menjadi sahabat kita berdua lagi,

Dan,
Bersediakah engkau mengaamiinkan kita berdua hingga tak ada lagi jarak pisah

Kepada yang hari ini berulang tahun,
Semoga selalu yang baik,
Kado terindah,
Tetaplah mempercayai ku,
Bahwa aku selalu mencintaimu


~Happy Birthday sayangku~
#pggysta

Aku Yang Sendiri

Ku peluk sendiriku,
Tanpa hadir mu,

Teramat jauh,
Enggan dekat,

Waktu memang enggan,
Bila kita bersama,
Walau sebentar,

Ia selalu cemburu,
Dan memberi jeda yang teramat lama,
Dalam keheningan tanpa suara,

Ku peluk rinduku,
Dalam nestapa,
Waktu yang enggan berdamai

Itu Saja

Aku memiliki rumah,
Yang tak pernah lelah,
Menatapku yang sedang berkeluh kesah,
Tentang resah yang sedang gelisah

Ada hal yang membuatku tumpah,
Lalu dalam luapan amarah,
Yang selalu resah dan gelisah

Entahlah,

Mengapa begitu menyayat,
Rasa yang bersekat,
Tanpa kau mengingat,
Aku yang sedang terpikat

Bara yang membara,
Jatuh yang terjatuh,
Dalam rasa yang penuh asmara,
Yang tak ingin menjadi sampah

Aku tuliskan perihal tentang kita,
Yang sungguh berjauhan,
Menatap rindu terbalas pertemuan,
Dengan ingin mendamba senyum bahagia

Aku rindu sekali,
Pertemuan tanpa rasa sukar,
Datang menyelinap mengelabuhi pikir,
Yang tak mau menyingkir

Aku rindu,
Bersamamu dulu,
Dengan rasa yang selalu,
Kau tanya rindu menggebu

Hanya kita,
Rasa yang tetap sama,
Tanpa jeda yang lain,
Itu saja

Jumat, 19 Mei 2017

~Sepekan Saja~

Sempat ditata apa yang dikata
Sehingga kata tak perlu ditata
Sempat pula tersembunyi dalam-dalam
Apa saja yang terpendam dalam hati yang terdalam

Sembari waktu menemukan pertemuan
Menjadi sahabat dikala pekan ini
Sementara saja,
Melainkan ku inginkan lebih lama lagi

Ada hasrat yang beradu begitu keras
Kian merintih dalam dalam
Namun aku jua tak semampai ingin melampauinya
Suatu kehendak yang bicara sendiri

Yang inginkan perdamaian di hati
Yang inginkan perdamaian dari kerinduan yang telah lama membendung

Entahlah, terkadang keinginan hanya sebatas kata saja
Tak mampu menorehkan arti ingin yang sebenarnya
Tanpa merasakan perdebatan di hati
Dan menyisakan suatu kerinduan tanpa ada penyiksaan
~Perdamaian Waktu~

Tak semestinya hati bergurau
Bila inginkan rindu yang mendalam
Betapa pula gurauan dalam dalam
Simpanlah, lalu berikan senyuman dalam termanis

Waktupun ingin berlalu
Tapi waktuku tak ingin berlalu denganmu
Hanya saja, waktu sekarang sedang berdamai dengan kita
Maka patutlah kita untuk patuh pada rasa yang kian merindu

Janganlah merindu terus-terusan
Jikala tak menghasilkan pertemuan yang berdamai dengan rasa
Karena rasa rindu tiadalah imbangnya dengan pertemuan
~Tak Berandai, Namun Cita-cita~

Bahasa hati yang kian beradu dalam inginnya
Bak gelombang ombak keras yang menampar bebatuan
Sementara menjelma menjadi lenguhan kesakitan yang bertopeng
Dalam lamunan atas kesetiaan derita yang menemani

Bahasa hati yang kian beradu dalam cahaya terang
Bak matahari yang bila menampakkan dirinya
Berkedip-kedip ketika memandanginya
Seolah tak kuasa menahannya

Dan ketika bahasa hati inginkan cita-cita
Sekeras perjuangan ternodai keringat
Bukan saja berandai-andai
Bukan pula hanya mimpi, melainkan impian nyata yang tak berandai